My Photo
Powered by Friendster Blogs

Categories

Recent Comments

January 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

January 21, 2008

Matinya Roh Idealisme

Matinya Roh Idealisme

Oleh: Rioni Imron, S.Sos

Tahun ajaran baru di jenjang pendidikan universitas merupakan
sesuatu hal yang lumrah jika terdapat banyak para pelamar yang memadati ruang
penerimaan mahasiswa baru. Bukan hanya berasal dari dalam daerah, namun juga
dipenuhi dari pelamar asal luar daerah.


Melihat fenomena yang rutin tiap tahunnya muncul di lingkungan kampus itu,
memberikan kita persfektif bahwa antusiasme para calon mahasiswa untuk dapat
mengenyam dunia intelektual itu cukup besar.


Dengan banyaknya para calon mahasiswa tersebut maka kita dapat beranalogi pula
bahwa, makin banyak yang akan berstatus menjadi mahasiswa, maka akan banyak
pula yang akan menjadi generasi penguat benteng intelektual bangsa.


Dari pernyataan di tersebut, setidaknya kita dahulu mengenal sepak terjang
mahasiswa sebagai agent of change, generasi pembaharuan. Tidak dapat dipungkiri,
mulai dari terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, hingga terus bergulirnya
perubahan zaman, pembangunan, kemajuan, dan lain sebagainya, tidak pernah terlepas
dari peran serta, aksi, dan sumbangsih kekuatan yang berasal dari kaum mahasiswa.


Mulai dari munculnya Sumpah Pemuda, Era Orde Baru, Era Reformasi, peran serta
mahasiswa sangat berperan penting dalam maju-berkembangnya bangsa ini.


Namun hingga kini, akankah jiwa-jiwa sebagai pembaharu itu masih terlihat,
dirasakan, atau bahkan di sandang oleh para mahasiswa yang dikatakan kaum intelektual
bangsa? Mungkin hal ini malah bisa menjadi sebuah pertanyaan retoris untuk kita
pertanyakan bersama. Mengapa?


Dapat kita rasakan, atmosfer yang ada pada diri masing-masing penyandang status
mahasiswa itu mulai berkurang. Jika melihat pergerakan yang di usung, dapat
dikatakan sudah tidak terlihat lagi demonstrasi yang berbayang idealis. Sudah
makin banyak indikasi kerapuhan idealisme mahasiswa. Boleh disebut, yang menyangkut
idealisme mahasiswa adalah merupakan penjabaran dari istilah agen perubahan.
Salah satunya adalah kreatifitas, pergerakan yang sehat, pemikiran, dan banyak
hal yang dapat di analogikan sebagai unsur-unsur idealis.


Jika melihat fakta yang ada, kita tidak akan menjumpai lagi forum-forum mahasiswa
di senggang waktu kuliah mereka untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan yang menghidupkan
atmosfir kemahasiswaan. Meskipun ada, namun kuota anggota forum yang hadir dapat
dihitung dengan jari sebelah tangan. Dengan tidak mendramatisir keadaan, bahkan
untuk mewujudkan sebuah ide, pemikiran untuk dijadikan sebuah perwujudan kegiatan
yang berpayung kepentingan masyarakat banyak, yang berpartisipasi untuk meluangkan
waktu, hanya berjumlah segelintir orang, sunggu ironis memang. Sehingga, hawa
kematian “jiwa-jiwa kemahasiswaan” itu kian menyengat, efeknya berdampak
sungguh fantastik, salah satunya yakni, tidak ada lagi yang akan bersikap kritis
terhadap segala bentuk kebijakan-kebijakan baru yang pada dasarnya tidak berpihak
kepada kemajuan dan masyarakat. Tidak akan ada per


Lambat laun, hal ini tentunya akan sangat berdampak buruk bagi status kemahasiswaan
yang disebut sebagai benteng intelektual tersebut. Mengapa tidak, virus-virus
apatisme yang melanda mahasiswa kiat merekat erat pada diri dan jiwa para mahasiswa
itu. Mereka bisa jadi “mati rasa” terhadap keadaaan yang terjadi
di lingkungan mereka. Baik itu di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan
lain sebagainya. Tak akan ada lagi pergerakan mahasiswa yang dengan mengusung
nyawa idealis untuk menuju sebuah perubahan yang lebih baik di tengah-tengah
masyarakat. Lebih jauhnya, akan lenyap pula identitas mahasiswa yang disebut
dengan agent perubahan, sungguh menyedihkan.


Pergerakan itu akan kian redup seiring dengan berkembangnya era globalisasi
yang penuh dengan benda-benda yang bernuansa hedonisme. Kebanyakan mahasiswa
akan sering kita jumpai di pusat-pusat perbelanjaan, game station, dan lain
sebagainya, yang akhirnya akan berdampak pula pada munculnya komunitas-komunitas
baru di kalangan mahasiswa. Perkumpulan-perkumpulan itu pula yang sedikit banyak
menyebabkan jati diri di kalangan mahasiswa hilang. Tidak sedikit para mahasiswa
mengikuti tren yang ada, hingga segala cara pun dihalal kan demi mengikuti sebuah
kehidupan yang kian lama, kian menuju ke sikap konsumerisme.


Namun, kegiatan-kegiatan seperti itu pula, tidak dapat pula diklaim sebagai
penyebab apatisme yang terjadi pada diri mahasiswa saat ini. Sah-sah saja jika
mereka berkumpul hingga membentuk sebuah komunitas-komunitas baru di luar agenda
kampus. Toh nyatanya dapat meningkatkan pergaulan, dan relasi. Tetapi dalam
menanggapi hal seperti ini, seharusnya mahsiswa juga dapat menempatkan dirinya
sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sebuah mekanisme berbangsa.


Mahasiswa memiliki tanggung jawab sebagai agen perubahan itu. Mahasiswa musti
slalu mengusung sikap kritis terhadap lingkungannya. Setidaknya mereka dapat
menempatkan diri mereka pada masing-masing potitioning yang sesuai demi kemajuan
zaman, namun tidak pula harus ortodoks hanya selalu berpegang teguh terhadap
pandangan idealis yang selama ini mengukung kekebasan berekspresi mereka. Lebih
lanjut, dapt dikatakan pula, ada keseimbangan setidaknya harus dijalankan dari
setiap unsur untuk menuju sebuah pembetukan karakter yang bertanggung jawab.


Memang tidak ada hukum pun yang melarang seseorang untuk berekspresi, bertindak,
maupun bersikap sesuai dengan kemauannya yang tidak melanggar aturan yang ada.
Tapi di setiap diri mahasiswa, tentunya terdapat pagar-pagar kecil yang berselimut
tanggung jawab sebagai salah satu bagian dari elemen masyarakat, sebagai generasi-generasi
penerus bangsa.


Lebih lanjut, kunci menghadapi hal tersebut, dapat dimulai dari diri masing-masing
mahasiswa, dengan menambah kesadaran akan pentingnya sikap merasa memiliki status,
juga memiliki tanggung jawab, Begitu pun di mulai dari hal yang kecil, seperti
meluangkan waktu barang sedetik untuk dapat berpartisipasi bertanggung jawab
terhadap lingkungan sekitar, dan dimulai saat ini, dengan segera bergerak, mewujudkan
pemikiran-pemikiran yang bernas sebagai sumbangsih status kemahasiswaan, dan
tidak larut akan kehidupan apatis yang kian lama kian merenggut jiwa-jiwa, maupun
jati diri yang melekat di diri para mahasiswa saat ini.


Hendaknya budaya kritis, budaya kreativitas, budaya pemikir yang di usung mahasiswa,
dapat terus harum menghiasi atmosfer dunia kampus yang semakin lama semakin
meredup, seiring dengan lajunya pergerakan era globalisasi yang cenderung dapat
menjadi sebuah tantangan bagi kaum generasi penerus bangsa untuk mempertahankan
kredibilitasnya sebagai generasi “benteng intelektual bangsa”. Mahasiswa
jangan mau terseret dengan arus globalisasi yang tanpa berbekal kesadaran, dan
kemampuan akan membawa ke arah penenggelaman idealisme-idealisme kemahasiswaan
itu sendiri, namun hendaknya pula dapat mengekspoitasi arus tersebut menjadi
senjata yang memperkuat dan memiliki manfaat bagi kemajuan hidup para mahasiswa
di zaman yang kian bergerak, tanpa mengenal batas dan terus berubah, semoga.

                            

December 31, 2007

cerpen

KUTUM PARGON

DINI hari, ketika sang surya mulai mencoba-coba menampakkan raut wajahnya yang begitu di nanti-nantikan seluruh makhluk di muka bumi ini. Tetapi hal itu menjadi tangisan yang amat memilukan hati penduduk, di desa Kertagu. Dimana mereka harus merelakan sejumlah warganya meninggalkan mereka, untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Akibat ulah penduduk desa itu sendiri, khususnya Kepala desa Kertagu yang baru saja dilantik untuk periode tahun ini. “Kepada penduduk Desa Kertagu ,yang saya cintai, marilah kita bersama-sama membebaskan desa ini dari segala macam jenis katak. Untuk itu saya sangat mengharapkan bantuan penduduk desa Kertagu agar dapat ikut berperan aktif dalam menyukseskan program ini, demi terciptanya kenyamanan dan kesehatan masyarakat bagi desa yang kita cintai ini.’’

Begitulah petikan akhir dari pidato sambutan pertama, yang diucapkan Bapak Kepala Desa Kertagu didalam acara syukuran atas terpilihnya beliau sebagai Kepala Desa di sana. Penduduk yang baik adalah penduduk yang selalu mentaati dan menjalankan aturan maupun norma yang berlaku dilingkungannya. Demikian halnya yang terjadi pada penduduk desa Kertagu. mendengar ucapan Pak Kades tersebut, penduduk hanya saling pandang memandangi, seolah apa yang telah mereka dengar dari mulut seorang petinggi didesa itu, telah merasuk kedalam dasar akal pikiran mereka.Di dalam benak mereka masing-masing, telah tertanam kata-kata dari Kepala Desa yang anggapan mereka akan membawa kebaikan, serta keuntungan bagi desa Kertagu, sehingga mereka merasa tergerak untuk ikut dalam menggalakkan program yang disampaikan saat pidato tersebut.

**

Kutum Pargon yang biasa dipanggil akrab Pak Tum oleh penduduk, berperawakan tinggi, kulit sawo matang, dan berambut keriting pendek. Dia dikenal dengan sifatnya yang ulet, aktif dan bersemangat dalam setiap aspek kehidupannya. Karena hal itu, penduduk desa Kertagu merasa Pak Tum lah yang pantas diandalkan serta mereka banggakan untuk memimpin perkembangan desa mereka selanjutnya . Mengupas petikan akhir dari pidato Pak Tum, dalam acara syukuran tempo hari, beliau hanya menjelaskan kerugian yang akan ditimbulkan akibat berkembangnya katak-katak liar yang hidup di desa Kertagu tersebut, ia merasa katak-katak yang hidup di desa kertagu itu, hanya sebagai pengganggu ketentraman desa saja. Pak Tum menjelaskan, katak-katak itu hidup hanya sebagai pengganggu ketentraman tidur penduduk pada malam harinya, selain itu segala macam jenis bibit-bibit penyakit yang berkembang di desa Kertagu yang banyak merenggut nyawa penduduk desa saat ini, adalah bibit penyakit yang berasal dari katak-katak itu sendiri, kata Pak Kades memperjelas argumen pidatonya saat itu.

Di balik semua itu penduduk tidak mengetahui apa yang sebenarnya menjadi landasan maksud, dan tujuan individu yang berkedok program desa tersebut. Program itu hanyalah sebagai pelampiasan dendam Pak Tum terhadap kata-katak itu. Kisahnya bermula ketika Pak Tum berusia lima belas tahun yang lalu. Pak Tum memiliki sebuah guci warisan dari leluhurnya yang ia peroleh dari keluarganya secara turun temurun. Suatu ketika masuklah seekor katak ke dalam guci Pak Tum. Karena emosi Pak Tum yang tidak tertahan lagi untuk mengeluarkan katak tersebut dari dalam guci warisan itu, akhirnya amarah telah membuat guci hancur terpisah belah. Semenjak kejadian itu, beliau selalu dihantui oleh perasaan berdosa kepada leluhur. Inilah motif sebenarnya yang adadi balik program desa Kertagu.

***

Sudah tiga bulan jabatan Kades yang disandang Pak Tum. Program-program desa yang telah direncanakannya, untuk perkembangan desa Kertagu, sampai saat ini belum ada dirasakan penduduk itu sendiri. Masih banyak lagi program-program perkembangan desa yang tidak terlaksana dengan baik, akibat dari kurangnya perhatian Pak Tum pada program-program desa tersebut. Ia hanya mementingkan salah satu program desa, yang menyangkut kepentingan pribadinya sendiri, dan berkedok sebagai program perkembangan desa. Program itu tidak lain adalah program pemberantasan segala jenis katak, yang pernah ia sampaikan pada acara syukurannya, tiga bulan yang lalu.

Hanya program pemberantasan katak inilah yang dampaknya telah dirasakan oleh penduduk desa, walau di balik semua itu nantinya akan timbul suatu masalah yang tak akan pernah diduga oleh penduduk sebelumnya. Sehingga, apabila orang berkunjung ke desa Kertagu takkan ada terlihat penduduk yang makmur. Juga takkan ada terjumpai sebutir telur katak, maupun seekor katakpun, di desa Kertagu. Di sana, hanya ditemukan tebaran rangka-rangka tulang katak yang tertimbun, merapuh akibat dijalankannya program gila itu. Apa yang penduduk impikan selama ini, untuk dapat tidur nyenyak di malam hari, telah dapat mereka rasakan, selain itu kepanikkan penduduk terhadap wabah penyakit yang menyerang desa mereka, dianggap wabah yang berasal dari katak-katak itu, juga telah musnah bersama dengan musnahnya ekosistem katak di desa Kertagu. Sehingga desa Kertagu sudah dikenal oleh penduduk-penduduk desa lain dengan sebutan desa anti katak.

****

“Sebenarnya, tindakan ini sudah melanggar ketentuan Tuhan !!!’’ Entah mengapa kalimat itu langsung terucap oleh salah seorang warga yang berada di kedai Bu Kona. “Apa pula maksud ucapan kau, Tan?!’’ tanya Turgor kepada Si Atan, yang tengah asik menyantap lontong sayur, buatan Bu Kona. “Maksudku, tentang katak-katak yang keberadaannya sudah tidak ada di desa kita ini, apakah nantinya tidak membawa akibat buruk terhadap penduduk disini?!’’ “Suuurrr’’. Bunyi darah, terdengar mengalir turun hingga ke ujung jari kaki mereka yang ada di kedai itu. Terlihat raut wajah mereka memucat, penuh kecemasan, mendengar ucapan tersebut. Serentak, seluruh orang yang ada di kedai terhenti sejenak, menyantap hidangan pagi di kedai itu.

Seolah-olah kalimat yang baru saja mereka dengar, telah merasuk menembus ruang akal pikiran mereka. Tan, pemuda yang mengucapkan kalimat itu, tersentak sadar akan ucapannya tadi. Ia menyadari bahwa kalimat yang keluar dari mulutnya itu, tidaklah atas alur pikirannya sendiri. Ia yakin bahwa kalimat itu adalah ucapan malaikat, yang ditugaskan untuk memberitahukan penduduk desa Kertagu, akan tindakan yang telah mereka lakukan terhadap katak-katak yang tidak bersalah itu. Di sisi lain, orang-orang yang ingin mendapatkan kelancaran dan sedikit cipratan lahan basah pada pekerjaannya, terus saja memberikan ancungan jempol terhadap Pak Tum. Mereka tak segan-segan menjilat bahkan mengubah hal yang haram menjadi halal hanya demi terpenuhinya kepentingan individu mereka belaka. Kebanyakan dari mereka tidak pernah ingin tahu menahu akan keadaan penduduk desanya sendiri, yang penting mereka hanya akan saling berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan yang bukan haknya. Tanpa ingat akan pertanggungjawabannya di akhirat nanti.

*****

Malam semakin larut, udara semakin dingin. Dan hembusan agin malam menyebarkan suara-suara makhluk malam. Kegelapan malam di terangi oleh bintang-bintang yang gemerlapan. Tetapi dari kejauhan, tanda-tanda hujan terlihat akan kunjung datang. Terdengar suara gemuruh guntur yang memecahkan gendang telinga. Dari kejauhan terlihat sekumpulan awan hitam tebal berlahan-lahan bergerak mendekat berangsur-angsur menutupi indahnya gemerlap bintang-bintang yang memberi keindahan desa Kertagu. Udara semakin dingin, Halilintar pun saling sambut menyambut, yang akan mengawali hujan di desa Kertagu. Hingga turunlah hujan mengucur deras disertai angin kencang. Tanpa penduduk sadari derasnya hujan, ternyata membuat wabah penyakit berkembang semakin meluas.

******

Pagi harinya, dikala sang surya menyibahkan jubahnya, yang memberikan sinaran yang terang bagi seluruh makhluk di permukaan bumi ini. Namun hal ini merupakan suasana yang amat sangat gelap bagi warga desa Kertagu. Peristiwa yang dulunya pernah memilukan hati penduduk desa Kertagu, kini terulang lagi. Laki-laki, perempuan, orang tua, remaja, bahkan anak-anak kecilpun yang tidak berdosa, satu persatu nyawanya direnggut oleh wabah penyakit yang begitu haus menghisap nyawa penduduk tanpa belas kasihan. Salah seorang dokter yang didatangkan dari kota, untuk membantu dan memantau desa Kertagu, menyatakan kepada penduduk, tentang wabah penyakit yang menyerang desa Kertagu, merupakan wabah penyakit yang dibawa nyamuk dan lalat, yang dipastikan kuat disebabkan banyaknya tumpukan-tumpukan sampah yang tidak terurus oleh penduduk maupun perangkat desa yang bertugas sebagai penanggung jawab kebersihan desa.

Mereka hanya sibuk dengan kepentingan pribadi mereka masing-masing untuk memperkaya diri sendiri. Selain itu, limbah-limbah kimia yang berasal dari industri-industri liar milik Pak Tum yang ia dirikan dari penggelapan uang penduduk desa Kertagu, diduga kuat sebagai faktor berkembangnya wabah yang saat ini melanda desa Kertagu. Penduduk menyadari program pemberantasan katak hanya membawa bencana bagi mereka. Selama ini mereka tidak menyadari akan manfaat yang ada dari setiap makhluk yang diciptakan Tuhan. Tindakan yang sudah mereka lakukan selama ini, hanya menyalahi dan melanggar kodrat Tuhan. Katak yang mereka anggap sebagai penyebar wabah, justru sebaliknya, katak-katak itulah yang kiranya memakan serangga yang membawa wabah tersebut. Bau busuk yang disimpan, akhirnya akan tercium juga. Program pemberantasan katak yang diprogramkan Pak Tum, maksud dan latar belakangnya telah diketahui oleh seluruh orang-orang di desa Kertagu.

Tiba-tiba sebuah mobil ambulance warna putih bertuliskan Rumah Sakit Jiwa, menepi, berhenti di depan kantor Kepala Desa. Tak lama kemudian terlihat dari luar kaca jendela mobil, seorang bapak-bapak yang berperawakan tinggi, kulit sawo matang, dan berambut keriting pendek, terlihat ia tertawa dan mengucap-ucapkan kata katak... guci... katak... guci..., sambil melambaikan tangannya kearah penduduk desa Kertagu. Menyaksikan kejadian itu, penduduk hanya dapat diam terpaku. Seolah-olah, mereka tidak mempercayai, siapa sebenarnya orang yang mereka jadikan Kepala Desa untuk memimpin desa Kertagu selama ini. Setelah kejadian itu berlalu, seluruh orang-orang desa Kertagu sudah bisa tersenyum ceria kembali. Sebab manakala musim penghujan tiba, orang-orang desa sudah tidak merasa suara-suara katak yang mereka dengar itu sebagai pengganggu tidur mereka di malam hari. Akan tetapi hal itu sudah menjadi kerinduan tersendiri bagi penduduk desa Kertagu, yang seolah-olah suara-suara itu menjadi nyanyian pembawa tidur malam yang indah bagi penduduk desa Kertagu.***